BAB 1
PENDAHULUAN
Latar belakang
Komunikasi adalah inti semua hubungan sosial apabila orang telah mengadakan hubungan tetap, maka system komunikasi yang mereka lakukan akan menentukan apakah sistem tersebut mempererat atau mempersatukan mereka mengurangi ketegangan atau melenyapkan persengketaan apabila muncul.
Komunikasi interpersonal atau komunikasi antar pribadi adalah proses pertukaran informasi serta pemindahan pengertian antara 2 orang atau lebih di dalam suatu kelompok manusia kecil dengan berbagai efek dan umpan balik (feed back ).
Berkomunikasi merupakan keharusan bagi manusia. Manusia membutuhkan dan senantiasa berusaha membuka serta menjalin komunikasi atau hubungan dengan sesamanya. Selain itu ada sejumlah kebutuhan manusia di dalam diri manusia yang hanya dapat dipuaskan dengan lewat komunikasi dengan sesamanya.
Komunikasi antarpribadi juga sangat penting bagi kebahagiaan hidup kita. Johnson (1981) menunjukkan beberapa peranan yang disumbangkan oleh komunikasi antarpribadi dalam rangka menciptakan kebahagiaan hidup manusia.
Komunikasi yang efektif ditandai dengan hubungan interpersonal yang baik. Kegagalan komunikasi sekunder terjadi, bila isi pesan kita dipahami, tetapi hubungan di antara komunikan menjadi rusak. “Komunikasi interpersonal yang efektif meliputi banyak unsur, tetapi hubungan interpersonal barangkali yang paling penting,” tulis Anita Taylor et al. (1977:187). “Banyak penyebab dari rintangan komunikasi berakibat kecil saja bila ada hubungan baik di antara komunikan. Sebaliknya, pesan yang paling jelas, paling tegas, dan cermat tidak dapat menghindari kegagalan, jika terjadi hubungan yang jelek”
Perumusan Masalah
Apa pengaruh Hubungan Interpersonal dalam menang-kalah dalam suatu hubungan?
Tujuan
Untuk mengetahui pengaruh Hubungan Interpersonal dalam menang-kalah dalam suatu hubungan.
Metodologi
Penyusuna makalah ini berdasarkan metode deskriftif analitis, yaitu mengidentifikasi permasalahan berdasarkan faka dan data yang ada, menganalisis permasalahan berdasarkan pustaka dan data pedukung lainnya.
BAB 2
PEMBAHASAN
Hubungan Interpersonal
Komunikasi antar pribadi (sering pula disebut dyadic communication) adalah komunikasi antara dua orang, dimana terjadi kontak langsung dalam bentuk percakapan. Efektifnya Komunikasi Interpersonal itu karena adanya arus balik langsung. Komunikator dapat melihat seketika tanggapan komunikan, baik secara verbal (dalam bentuk jawaban dengan kata) maupun secara non-verbal (dalam bentuk gerak-gerik) sehingga komunikator dapat mengulangi atau meyakinkan pesannya kepada komunikan. Pengertian efektif dalam Komunikasi Interpersonal ini adalah dalam hubungannya perubahan sikap (attitude change).
Hakikat dari hubungan interpersonal adalah bahwa ketika berkomunikasi, kita bukan hanya menyampaikan isi pesan, tetapi juga menentukan kadar hubungan interpersonal. Jadi, kita bukan sekedar menentukan content tetapi juga relationship. Pandangan ini merupakan hal baru dan untuk menunjukkan hubungan pesan komunikan ini disebut sebagai metakomunikasi.
Dalam hal ini berarti bahwa studi komunikasi interpersonal bergeser dari isi pesan kepada aspek relasional. Aspek relasional inilah yang menjadi unit analisis dari komunikasi interpersonal. Dari segi psikologi komunikasi, kita dapat menyatakan bahwa makin baik hubungan interpersonal, makin terbuka orang untuk mengungkapkan dirinya, makin cermat persepsinya sehingga makin efektif komunikasi itu berlangsung.
Hubungan interpersonal terbentuk ketika proses pengolahan pesan, (baik verbal maupun nonverbal) secara timbal balik terjadi dan hal ini dinamakan komunikasi interpersonal. Ketika hubungan interpersonal interpersonal tumbuh, terjadi pula kesepakatan tentang aturan berkomunikasi antara para partisipan yang terlibat.
Teori-teori Hubungan Interpersonal
Teori Transaksional (model Pertukaran Sosial)
Menurut teori ini, hubungan antar manusia (interpersonal) itu berlangsung mengikuti kaidah transaksional, yaitu apakah masing-masing merasa memperoleh keuntungan dalam transaksinya atau malah merugi. Jika merasa memperoleh keuntungan maka hubungan itu pasti mulus, tetapi jika merasa rugi maka hubungan itu akan terganggu, putus, atau bahkan berubah menjadi permusuhan.
Demikian juga rakyat dan pemimpin, suami- isteri, mantu – mertua, direktur-anak buah, guru-murid, mereka berfikir; kontribusi mereka sebanding dengan keuntungan yang diperoleh atau malah rugi. Demikian juga hubungan antara daerah dengan pusat, antara satu entitas dengan entitas lain.
Teori Peran
Menurut teori ini, sebenarnya dalam pergaulan sosial itu sudah ada skenario yang disusun oleh masyarakat, yang mengatur apa dan bagaimana peran setiap orang dalam pergaulannya. Dalam skenario itu sudah `tertulis" seorang Presiden harus bagaimana, seorang gubernur harus bagaimana, seorang guru harus bagaimana, murid harus bagaimana. Demikian juga sudah tertulis peran apa yang harus dilakukan oleh suami, isteri, ayah, ibu, anak, mantu, mertua dan seterusnya. Menurut teori ini, jika seseorang mematuhi skenario, maka hidupnya akan harmoni, tetapi jika menyalahi skenario, maka ia akan dicemooh oleh penonton dan ditegur sutradara. Dalam era reformasi sekarang ini nampak sekali pemimpin yang menyalahi skenario sehingga sering didemo public.
Teori Permainan
Menurut teori ini, klassifikasi manusia itu hanya terbagi tiga, yaitu anak-anak, orang dewasa dan orang tua. Anak-anak itu manja, tidak ngerti tanggungjawab, dan jika permintaanya tidak segera dipenuhi ia akan nangis terguling-guling atau ngambek. Sedangkan orang dewasa, ia lugas dan sadar akan tanggungjawab, sadar akibat dan sadar resiko. Adapun orang tua, ia selalu memaklumi kesalahan orang lain dan menyayangi mereka. Tidak ada orang yang merasa aneh melihat anak kecil menangis terguling-guling ketika minta eskrim tidak dipenuhi, tetapi orang akan heran jika ada orang tua yang masih kekanak-kanakan. Suasana rumah tangga juga ditentukan oleh bagaimana kesesuaian orang dewasa dan orang tua dengan sikap dan perilaku yang semestinya ditunjukkan. Jika tidak maka suasana pasti runyam. Demikian juga hubungan antara pusat dan daerah, antara atasan dan bawahan. Aparat Pemerintah mestilah bersikap dewasa, Presiden dan Ketua MPR mestilah jadi orang tua.
Tahap-tahap Hubungan Interpersonal
Pembentukan Hubungan Interpersonal
Tahap ini sering disebut sebagai tahap perkenalan. Perkenalan adalah proses penyampaian informasi, ditandai oleh usaha kedua belah pihak untuk ”menangkap” informasi dari reaksi kawannya. Masing-maing pihak berusaha ”menggali” secepatnya idemtitas, sikap, dan nilai-nilai pihak yang lain. Bila mereka merasa ada kesamaan, mulailah dilakukan proses mengungkapkan diri. Bila mereka merasa berbeda, mereka akan berusaha meyembunyikan dirinya. Hubungan interpersonal mungkin diakhiri. Proses saling menilik ini disebut Newcomb sebagai ”reciprocal scanning” (saling menyelidiki). Pada tahap ini informasi yang dicari dan disampaikan umumnya berkisar mengenai data demografis; usia, pekerjaan, tempat tinggal, keadaan keluarga, dan sebagainya.
Peneguhan Hubungan Interpersonal
Hubungan interpersonal tidaklah bersifa statis, tetapi selalu berubah. Untuk memelihara dan memperteguh hubungan interpersonal, perubahanmemerlukan tindakan-tindakan tertentu untuk mengembalikan keseimbangan (equilibrium). Ada empat faktor yang amat penting dalam memelihara keseimbangan ini: keakraban, kontrol, respons yang tepat, dan nada emosional yang tepat.
Pemutusan Hubungan Interpersonal
R.D. Nye (1973) dalam bukunya Conflict among Humans. Nye menyebutkan lima sumber konflik: (1) kompetisi – salah satu pihak berusaha memperoleh sesuatu dengan mengorbankan orang lain;misalnya menunjukka kelebihan dalam bidang tertentu dengan merendahkan orang lain; (2) dominasi – salah satu pihak berusaha mengendalikan pihak lain sehingga orang itu merasakan hak-haknya dilanggar; (3) kegagalan – masing-masing berusaha menyalahkan yang lain apabila tujuan bersama tidak tercapai; (4) provokasi – salah satu pihak terus-menerus berbuat sesuatu yang ia ketahui menyinggung perasaan orang lain; (5) perbedaan nilai – kedua pihaktidak sepakat tentang nilai-nilai yang mereka anut.
Faktor-faktor yang Menumbuhkan Hubungan Interpersonal dalam Komunikas Interpersonal
Ruben mengemukakan beberapa faktor yang mempengaruhi terbentuknya pola-pola komunikasi interpersonal sebagai berikut:
Tingkat hubungan dan konteks
Pola yang berkembang akan berbeda pada tingkat komunikasi yang biasa dengan yang intim. Begitu juga konteks akan menentukan pola komunikasi yang tercipta misal di mall yang ramai atau di taman yang sepi.
Kebutuhan interpersonal dan gaya komunikasi
Kekuasaan
Konflik
Sementara itu Jalaluddin Rakhmat menyebutkan tiga faktor yang mempengaruhi terbentuknya pola komunikasi dalam hubungan interpersonal:
Percaya (trust), percaya menentukan efektivitas komunikasi dan dapat meningkatkan kadar komunikasi interpersonal yang terbentuk.
Sikap suportif, sikap yang mengurangi sikap defensif dalam komunikasi.
Sikap terbuka, faktor ketiga yang menumbuhkan sikap percaya.
Studi kasus Hubungan Interpersonal
Menang – Kalah dalam Hubungan
Kemenangan Diri Itu Kunci
Istilah kalah-menang ini sangat kerap kita munculkan dalam praktek hubungan dengan orang lain (relationship ). Hubungan di sini bisa termasuk hubungan dalam wilayah publik (mitra bisnis, rekan profesi, dosen, dst) dan hubungan dalam wilayah privat (suami-istri, keluarga, sahabat, dst). Bentuknya pun bisa berupa materi dan non materi, bisa dalam bentuk hasil atau dalam bentuk proses.
Dorongan untuk mendapatkan kemenangan itu, kalau menurut Horney (Our Inner Conflict, 1945), termasuk salah satu kebutuhan manusia atau termasuk naluri bawaan dari semua orang. Menurutnya, kebutuhan manusia itu bisa dikelompokkan menjadi tiga:
Manusia butuh bergerak mendekati orang lain untuk mendapatkan cinta, penerimaan, kasih sayang, penghormatan, dst.
Manusia butuh bergerak menjauhi orang lain untuk mendapatkan kebebasan, kemandirian, ketenangan, dst.
Manusia butuh bergerak menentang orang lain untuk menunjukkan kekuatan, kemenangan, atau kehebatan, dst
Namun begitu, namanya juga bawaan. Bawaan itu adalah potensi. Potensi itu bahan baku. Karenanya, bisa membahayakan dan bisa menguntungkan. Ini tergantung bagaimana potensi itu diolah atau "dididik". Seseorang yang saya kenal, sebut saja namanya A, menyadari bahwa hubungannya dengan orang lain itu akhirnya kalah, meskipun dulunya ia selalu menganggap itu kemenangan.
Sewaktu masih muda, si A ini merasa punya temparemen tinggi dan perfeksionis. Dengan darah mudanya, ia selalu punya standar bahwa orang lainlah yang harus mengerti siapa dirinya. Ditambah dengan penguasaan skill nya yang tinggi, standar itu sangat sempurna untuk diterapkan. Sedikit saja menemukan ketidakberesan pada orang lain, langsung keluar ultimatum. Ini membuat dia sering ganti mitra usaha dan juga sering pindah pekerjaan.
Seiring dengan berjalannya waktu, ternyata ia berubah pikiran. Kesimpulannya, kemenangan yang ia agungkan dulu, ternyata kurang bisa memberikan kualitas hubungan yang bertahan lama. Dorongan untuk selalu harus menang itu malah menyebabkan kekalahan di kemudian hari. Bentuknya antara lain: relasinya tidak banyak, relasinya hanya bersifat sementara, kurang memiliki pendukung yang loyal, dan seterusnya.
Beberapa Ciri Kemenangan Diri
Orang yang menang atas dirinya itu bukanlah sosok yang tidak pernah maju ke adu kalah-menang dalam hubungan. Orang yang menang atas dirinya itu bukanlah sosok yang terlalu amat baik sehingga mau dijadikan korban oleh orang lain. Orang yang menang atas dirinya itu bukanlah orang yang tidak pernah marah sama orang lain.
Perlu kita ingat bahwa kemenangan diri itu adanya di level hubungan intrapersonal antara kita dan diri kita. Bahwa ada orang lain yang membuka pintu adu kalah-menang, ada orang lain yang merugikan dan menguntungkan, ada orang lain yang perlu dihormati atau dimarahi, itu semua adanya di level hubungan interpersonal antara kita dengan orang lain.
Intinya, orang yang menang atas dirinya itu tetap melakukan hal-hal yang manusiawi atau tetap menghadapi realiatas hidup yang muncul dari konsekuensi hubungan dengan orang lain. Hanya saja, bedanya adalah:
Pertama, menang atas diri itu berkonsentrasi pada upaya untuk memperjuangkan visi, merealisasikan tujuan jangka pendek atau jangka panjang, atau mengaktualisasikan potensi guna meraih prestasi. Misalnya saja kita menghadapi pertarungan office politi c yang sudah sampai pada tingkat saling menjatuhkan. Sejauh kita tetap bisa mengkonsentrasikan pikiran dan tindakan pada visi, tujuan, dan aktualisasi, maka kemenangan sudah kita raih.
Kedua, menang atas diri itu mempertahankan nilai-nilai yang kebenaran, kebaikan, dan kemanfaatannya sudah tidak diperdebatkan lagi karena memang sudah mutlak. Dalam beberapa kasus, ini membutuhkan pengorbanan dan seringkali tampak seperti kekalahan. Karena itu, dalam ajaran agamanya, kalau kita malah sial dengan mempertahankan nilai, namanya bukan musibah, melainkan ujian (bala ‘). Ujian ini adalah moment untuk menguji apakah kita akan commit dan sabar atas inisiatif kita atau hanya setengah-setengah. Kerap ada orang yang mengalami susahnya mencari pekerjaan yang bersih setelah resign atau tobat dari pekerjaan dulu yang kotor. Jika orang ini kalah atas dirinya, dia akan mudah kembali lagi ke pekerjaan lama yang kotor itu. Tapi jika menang, dia akan berhasil melewati ujian. Karena sering ada ujian dan kekalahan ini, makanya Tuhan mewanti-wanti agar jangan sampai orang yang mempertahankan nilai itu tertipu oleh realitas yang temporer dan superfisial.
Ketiga, menang atas diri itu menyelaraskan kepentingan pribadi, subyektivitas pribadi, atau egoisme hawa nafsu pribadi pada nilai-nilai, ajaran, atau akal sehat. Jadi, kita menomorsatukan nilai sebelum kepentingan. Semua orang pasti punya kepentingan pribadi sebab inipun ada gunanaya. Bedanya, ada yang ditundukkan pada nilai, ajaran, atau akal sehat dan ada yang mengabaikan semua itu. Bukti ketundukan itu sama sekali tidak bisa diukur dari pernyataan kita di depan orang lain, di tempat meeting , atau di depan press , melainkan dari pembuktian yang kita lakukan atas diri kita. Meminjam istilahnya Covey, bukti ketundukan itu bisa dibedakan apakah ketundukan itu pada "Apa" (what is the right ) atau pada "Siapa" (pribadi atau lembaga). Kalau kita sudah berhasil tuduk pada "apa" (nilai kebenaran yang sudah tidak diperdebatkan lagi), berarti kemenangan kita semakin bagus.
Keempat, menang atas diri itu menghindari cara-cara yang merugikan atau yang mencelakakan, baik untuk diri sendiri atau orang lain. Kalau kita kehilangan engagement , motivasi, dan ide-ide perbaikan di kantor gara-gara melihat ketidakadilan, meskipun ini manusiawi, namun sejatinya kita telah kalah oleh diri kita. Mestinya, sambil tetap berupaya menyelesaikan ketidakadilan, kita pun tetap melakukan hal-hal positif untuk diri kita, minimalnya. Menang atas diri itu sebetulnya bukanlah tujuan akhir, melainkan sebuah proses yang harus kita tempuh agar bisa mencapai tujuan. Tujuannya adalah memperjuangkan visi, mempertahankan nilai, atau pengembangan diri. Artinya, kalau proses meraih tujuan ini terhenti gara-gara penyimpangan dan pelanggaran orang lain, berarti tujuan dari kemenangan diri itu tidak tercapai.
Kelima, menang atas diri itu mengambil dan mengeluarkan. Kita akan menang apabila berhasil mengambil pelajaran dari apapun yang menimpa kita untuk diolah menjadi benefit atau profit yang bisa kita keluarkan dari diri kita. Dengan cara ini berarti perbaikan demi perbaikan akan terus muncul.
Banyak bukti yang menunjukkan bahwa kemenangan-diri itu punya efek positif bukan semata pada wilayah hubungan intrapersonal, melainkan juga pada domain hubungan interpersonal. Efek positif itu bisa muncul entah dalam rangka untuk mengajak atau menghadapi orang lain sebagai lawan. Misalnya kita ingin mengajak pasangan kita (suami istri) untuk merayakan ulang tahun anak di rumah. Kalau yang kita munculkan itu selera pribadi, lebih-lebih egoisme pribadi, biasanya akan menghadapi perlawanan atau memunculkan selera tandingan.
Tapi kalau yang kita munculkan itu adalah keberpihakan pada nilai-nilai kesederhanaan, kemaslahatan, atau nilai apapun, biasanya itu relatif lebih enak diterima dan lebih kecil potensi munculnya selera tandingan. Tentu saja perlu didukung dengan cara-cara yang baik dalam mengkomunikasikan keberpihakan itu. Bahkan jika keberpihakan ini sudah menjadi budaya hidup, biasanya ini akan dipahami sebagai kharisma. Kharisma akan muncul sebanding dengan keberpihakan kita.
Menurut catatan Terry Orlick (The Wheel of Excellence, 2004 ), pakar psikologi olahraga, kemenangan-diri itu akan menentukan nasib seorang atlet di atas ring. Tidak semua atlet yang mengalahkan lawan tandingnya itu akan menjadi pemenang. Bisa jadi kemenangan saat itu akan menjadi awal kekalahannya. Begitu juga tidak semua atlet yang dikalahkan di atas ring itu akan kalah selamanya. Bisa jadi kekalahan saat itu adalah jalan menuju kemenangannya.
Dinamika ini akan ditentukan oleh kemenangan diri. Atlet yang kalah di atas ring, namun terus belajar dari kekalahannya, tetap berlatih, tetap menjaga nilai-nilai, atau tetap punya penyikapan yang positif, pasti akan meraih kemenangan nantinya, entah dalam bentuk apapun. Tapi, atlet yang menang di atas ring, namun makin malas latihan, mengabaikan nilai, lebih berkonsentrasi pada pemberitaan press ketimbang latihan, dia akan kalah nantinya.
"Sebelum Anda menjadi warrior , Anda harus menjadi winner "(Doktrin Samurai)
Dinamika Hubungan
Dalam praktek sehari-hari, hubungan antarmanusia itu sedinamis manusianya. Dinamika hubungan ini kalau mengacu ke pemikirannya Tom Jaap (Enabling Leadership, Achieving Result with People, 1989), bisa dijelaskan sebagai berikut:
Konsesi (concession ). Kita menyadari perlunya mengalah untuk membuat orang lain merasa menang atau merasa senang (lose-win) , baik dalam bentuk sikap atau hasil.
Kompromi (compromise ). Kita mengajak orang lain untuk bisa sama-sama menerima kerugian (lose-lose ), bisa 50%: 50%dan bisa 40: 60, tergantung keadaan.
Konsensus (consensus ). Kita menciptakan kesepakatan yang win-win , semua pihak merasa menang, atau tidak ada yang dirugikan, minimalnya.
Paksaan (Coercion ). Kita menggiring orang lain untuk harus kalah atau menciptakan strategi yang membuat kita meraih kemenangan lebih banyak, baik dengan paksaan yang hard atau yang soft . Biasanya ini kerap ditempuh oleh orang yang powerful (posisi di atas) atau powerless (minder atau takut)
Keempat dinamika di atas bisa jadi ada yang kita kondisikan sebagai strategi atau ada yang membuat kita terkondisikan oleh faktor eksternal tertentu. Sejauh itu ditopang oleh kemenangan diri, seperti yang sudah kita bahas ciri-cirinya di muka, maka kemungkinannya hanya ada tiga:
kita akan sama-sama meraih kemenangan,
kalau kita kalah, kekalahan itu tidak total atau tidak kalah selamanya, dan
kalau kita menang, kemenangan itu tidak sampai membuat orang lain jatuh harga dirinya.
"Kekalahan itu sementara sifatnya,
namun akan abadi apabila kita kalah oleh diri kita."
Dari sejumlah kasus serupa yang kerap kita jumpai, kemenangan itu selalu nisbi dan relatif, sejauh itu kita pahami sebagai padanan atas kekalahan orang lain. Kenapa? Selain kerap didorong oleh hawa nafsu, kemenangan dengan mengalahkan orang lain itu akan memunculkan perlawanan. Ini karena tidak ada manusia yang mau dikalahkan. Karena itu, sampai pun kita harus menang melawan orang lain, hendaknya jangan sampai membuat harga diri orang lain jatuh.
Supaya kemenangan itu tidak relatif dan tidak nisbi, ajaran kearifan di dunia ini mengajak kita memahami kemenangan bukan seperti itu. Kemenangan itu jangan dipahami sebagai padanan atas kekalahan orang lain, terutama dalam praktek hubungan sehari-hari, melainkan kemenangan atas diri sendiri. Kemenangan atas diri itu adalah bentuk kemenangan yang kita raih dengan menguasai naluri bawaan untuk menang itu supaya tidak membuat kita kalah, nantinya.
"Semakin banyak orang lain yang berhasil kita kalahkan, seringkali malah membuat posisi kita semakin lemah"
BAB 3
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Komunikasi antarpribadi juga sangat penting bagi kebahagiaan hidup kita. Hubungan interpersonal terbentuk ketika proses pengolahan pesan, (baik verbal maupun nonverbal) secara timbal balik terjadi dan hal ini dinamakan komunikasi interpersonal. Ketika hubungan interpersonal interpersonal tumbuh, terjadi pula kesepakatan tentang aturan berkomunikasi antara para partisipan yang terlibat.
Saran
Semoga dengan segala keterbatasan yang ada,makalah ini dapat bermanfaat bagi Kita semua dan Kami mengharap kritik serta saran yang membangun untuk perbaikan di masa mendatang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar